Pulau sambori terletak di Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah. Perjalanan dapat ditempuh 2-4 jam menuju titik tujuan. Tempat ini kadang orang-orang menyebutnya sebagai ratu ampat, sebab keindahan pulau-pulau yang ada hampir mirip dengan pemandangan di raja ampat. Sungguh sangat menakjubkan, jika ingin berlibur kesini 2-3 hari saja tidaklah cukup. Selain membuat suasana hati menjadi nyaman pemandangannya sangat-sangat memanjakan indera pelihat. Kebayang kan seperti apa suasananya.
April 2018 saya dan kawan-kawan siap untuk bersentuhan langsung dengan udara Pulau Sambori, kebetulan pada bulan itu adalah musim hujan dan musim ombak, tentu saja para pengunjung Pulau Sambori terbilang sepi karena tidak ada yang ingin mengambil resiko untuk melawan ombak-ombak selama perjalanan menuju pulau. Tapi.. saya dan kawan-kawan bertekad keras untuk tetap melakukan perjalanan kesana saking penasarannya seperti apa keindahan Pulau Sambori. Sebelumnya kami tidak di izinkan untuk melakukan perjalanan, bermacam-macam cara sudah kami lakukan dan pada akhirnya setelah satu hari satu malam menunggu alhasil kami di izinkan untuk berangkat, jangan dicontoh yaaa hal seperti ini hehehehe, karena pemaksaan kami ini adalah resiko yang sangat berbahaya.
Dengan membayar Rp. 1.000.000 sewa kendaraan laut yang sangat sederhana, tepat pukul 05:30 pagi kami siap berangkat dari Desa Lafeu Bungku Selatan menuju Pulau Sambori Kabupaten Morowali Sulawesi tengah. Dalam perjalanan kami disungguhkan banyak pemandangan cantik dari laut Kabupaten ini, tubuh terasa nyaman disentuh langsung oleh angin laut nan sejuk di pagi hari. Sungguh menyenangkan melihat langsung matahari terbit dari tengah laut ditemani ikan-ikan hias yang dengan segar menyapa kedatangan kami.
Jauh sudah kendaraan laut berlayar rumah-rumah tak lagi dipandang oleh mata, laut yang semakin membiru, matahari yang sayup sudah mulai berada di atas kepala. Tiba-tiba angin sepoy berubah menjadi angin marah seakan menegur kedatangan kami yang dengan cara memaksa. Hujan pun turun , anehnya hujan turun tidak merdu melainkan keras seperti batu. Sungguh sangat menakutkan. Ditengah laut biru tanpa memandang apapun selain laut dan langit, hujan, ombak, dan angin kencang menghampiri kami dengan kasar, ditambah kendaraan laut yang tiba-tiba saja mati. Dengan keadaan ini apalagi yang ada didalam pikiran kalau bukan kematian. Dengan mengingat dan menyebut nama Allah Swt sedikit menenangkan perasaan tapi tidak pada kenyataan.
Kurang lebih 20 menit peristiwa itu menemani kami setelah kendaraan pun kembali menyala, hati legah dan seketika mengingat kesalahan akan pemaksaan yang sudah terjadi. Untungnya kawan-kawanku tidak semua tipikal orang-orang yang penakut, makanya setelah kejadian kami selalu saja menertawakan apa yang sudah terjadi sekaligus sedikit menyesali apa yang sudah kita lakukan.
Beberapa menit setelahnya kami di takjubkan dengan pulau yang berhadapan seperti menyerupai sebuah pintu dan menandakan bahwa kami telah memasuki kawasan Pulau Sambori yang khas dengan bebatuan kars itu.
Apalah arti sebuah kenikmatan tanpa rasa syukur, sungguh Maha Besar sang Pencipta langit dan bumi yang telah menciptakan berbagai macam keindahan yang kadang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata tapi selalu terasa. Disini saya membuktikan benar kata orang-orang jika menyebutnya sebagai ratu ampat, Sambori benar-benar terlihat seperti raja ampat yang pernah kupandangi walaupun hanya sebatas foto. Hehehe
Dengan banyaknya spot-spot wisata yang cantik, ternyata Sambori menyimpan banyak permata-permata dibawah batuan kars. Disini banyak Gua yang bisa di masuki untuk dijadikan explore wisata apalagi bagi pecinta Caving. Dan Gua yang ada disini rata-rata masih hidup, cocok kan untuk para pecinta Caving.
Di Pulau Sambori sudah banyak terbangun koteks untuk para pengunjung, kebetulan kami hanya membawa perlengkapan kemping makanya tidak memilih untuk tidur didalam koteks yang sudah tersedia. Air laut di Pulau Sambori sangat jernih dan bersih berwarna seperti relaxa sangat asik untuk melakukan snorkling. Sayangnya di pulau ini kekurangan air bersih, makanya setiap pengunjung yang datang harus membeli air bersih, yaaa termaksut kami. Untuk melakukan traveling ke pulau ini diharuskan agar membawa biaya lebih karena biaya hidup disini terbilang mahal, terkecuali orang-orang yang ingin tinggal di pulau ini dan melakukan sosiologi pedesaan yang bagus sudah pasti biaya hidupnya terjamin dan bebas menikmati sekitaran pulau tanpa biaya sepersen pun hehehehe.
Adinda, april 2018


Tidak ada komentar:
Posting Komentar